#FromSachi: Hinamatsuri, Festival Anak Perempuan di Jepang

22 August 2019


Halo Yogurtarian-tachi, kembali lagi bersamaku, Sachi. Tak terasa sudah memasuki bulan Maret saja ya. Disini masih dingin, tapi festival tahunan musim semi sudah dimulai. Diawali dengan Hinamatsuri yang dirayakan dari akhir Februari hingga tanggal 3 Maret setiap tahunnya. Lalu nantinya menyusul festival Hanami alias sakura viewing. Aku suka banget musim semi karena udaranya sejuk dan menyenangkan, serta banyak festival-festival yang berkaitan dengan buah, bunga, dan panen!

 

Nah, sekarang kita bahas Hinamatsuri dulu ya!

 

Apa Itu Hinamatsuri?

 

Hinamatsuri adalah sebuah festival yang secara harafiah artinya adalah “festival boneka”. Hinamatsuri adalah festival dimana keluarga-keluarga di Jepang yang memiliki anak perempuan memajang pajangan satu set boneka dan menyajikan makanan khusus untuk mendoakan kesehatan dan kesejahteraan anak perempuan mereka. Festival ini sudah rutin dilaksanakan sejak tahun 1600-an. Pada masanya, boneka dipajang sebagai perlambangan pengusiran setan jahat.

 

Pelaksanaan Hinamatsuri

 

Boneka hinamatsuri dipajang dari akhir Februari hingga 3 Maret setiap tahunnya. Ketika boneka dipajang, teman-teman anak perempuan dipersilakan untuk main ke rumah. Makanan pun disajikan sesuai dengan tema festival ini. Tradisionalnya, disajikan chirashi-zushi (nasi sushi yang disajikan dengan potongan ikan), hishi-mochi (mochi berbentuk wajik berwarna pink), dan beberapa jenis makanan manis lain yang populer di kalangan anak-anak.

 

Eits, jangan lupa, setelah festival selesai, boneka harus langsung dirapikan lagi. Karena kalau dibiarkan dipajang, ada takhayul yang mengatakan anak perempuan mereka akan susah dapat jodoh. Wah, seram juga ya, takhayulnya.

 

Setelah Hinamatsuri Selesai

 

Banyak dari warga Jepang yang selesai melaksanakan hinamatsuri membuat boneka kertas untuk dihanyutkan ke sungai. Kepercayaan ini mengatakan bahwa boneka kertas yang dihanyutkan akan membawa segala keburukan dan penyakit dan membawanya pergi mengikuti aliran air.

 

Unik ya tradisi Jepang yang satu ini! Karena aku dan Haru (host sister-ku) sudah bukan anak-anak lagi, di rumah kami tidak ada yang memasang boneka hinamatsuri, tetapi kami berencana mengunjungi kerabat yang memasang boneka di rumahnya.

 

Sekian dulu ceritaku kali ini ya, Yogurtarian-tachi. Semoga ceritaku yang ini maupun yang manapun bermanfaat untuk kalian semua! (Sachi, foto: japaneseculture-nyc.com)